BAB I
PENDAHULUAN
A.
PENGERTIAN
Hiperplasia prostatik jinak
merupakan kelenjar prostatnya mengalami perbesaran memanjang ke atas ke dalam
kandung kemiH dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifusium uretra. (Brunner A. Suddart,
2001)
Hiperplasia prostat merupakan
pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua
dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan
aliran urinarius. (Marlynn E. Doenges,
2000)
Hipertrofi prostat adalah
bertambahnya sel atau chali hiperlasia dari kelenjar periurotral yang akan
mendesak kelenjar prostat, sehingga mengakibatkan kelenjar prostat menjadi
gepeng dan akan membentuk kapsul prostat. (Kapita Selekta
Kedokteran, 2000)
Baca Selengkapnya
Baca Selengkapnya
B. ETIOLOGI
Etiologi BPH belum jelas namun
terdapat faktor resiko dan hormon androgen. Perubahan mikroskopik pada prostat
telah terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini
berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pria usia 50
tahun angka kejadianyna sekitar 50%, usia 80 tahun sekitar 80% dan usia 90
tahun 100%.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
C. MANIFESTASI KLINIK
Biasanya gejala-gejala pembesaran
prostat jinak, dikenal sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS) dibedakan
menjadi gejala iritatif dan obstruktif. Gejala iritatif yaitu sering miksi
(frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam
hari (nokturia), perasaan miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan
nyeri pada saat miksi (disuria).
Gejala obstruktif adalah pancaran
melemah, rasa tidak lampias sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama
(hesitancy), harus mengedan (straining), kencing terputus-putus (intermittency)
dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen
karena over flow.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Kompleks gejala obstruktif dan iritatif mencakup :
a.
Peningaktan frekuensi berkemih
b.
Nokturia
c.
Dorongan ingin berkemih
d.
Anyang-anyangan
e.
Abdomen tegang
f.
Voluem urin menurun
g.
Harus mengejan saat berkemih
h.
Aliran urin tidak lancar
i.
Urin terus menerus menetes
setelah berkemih (dribbling)
j.
Rasa seperti kandung kemih
tidak kosong dengan baik
(Brunner & Suddarth, 2001)
D. FOKUS PENGKAJIAN
1.
Sirkulasi
Tanda : peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal).
2.
Eliminasi
Gejala :
-
Penurunan kekuatan atau
dorongan aliran urine, tetesan
-
Keragu-raguan pada berkemih
awal
- Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih.
- Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap, dorongan dan frekuensi berkemih.
-
Nukturia, disuria, hematuria
-
Duduk untuk berkemih
-
ISK berulang, riwayat batu
(statis urinaria)
-
Konstipasi (protrusi prostat
abdomen bawah (dispensi kandung)
Tanda : Massa padat di bawah abdomen bawah (disfensi
kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih.
3.
Makanan / cairan
Gejala : Anoreksia; mual, muntah
Penurunan
berat badan
4.
Nyeri/ kenyamanan
Gejala : Nyeri suprapubis, panggul, atau punggung,
tajam, kuat (pada prostatitis akut).
Nyeri
punggung bawah.
5.
Keamanan
Gejala : Demam
6.
Seksualitas
Gejala : Masalah tentang efek kondisi / terapi pada
kemampuan seksual.
Takut
inkontmensia / menetas selama hubungan intim.
Penurunan
kekuatan kontraksi ejakulasi.
Tanda : Pembesaran, nyeri tekan prostat
7.
Penyuluhan / Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga kanker,
hipertensi, penyakit ginjal, penggunaan antipertensif / anti depreson, anti
biotic urinaria atau agen antibiotik, obat yang dijual bebas untuk flu / alergi
obat mengangung simpatomimetik.
Pertimbangan :
Rencana Pemulangan
: memerlukan bantuan dengan menajemen terapi, contoh kateter.
(Marylnn
E. Doenges)
E. PEMERIKSAAN FISIK
1.
Pemeriksaan Laboratorium
-
Urine analisa (rutine)
-
Urine biakan dan resistensi
-
Ureum darah, fosfatosa asam,
leukosit
-
Pemeriksaan prostate spesific
antigen (PSA)
2.
Pemeriksaan Diagnostik
-
Sitoskopi – sistogram
-
USG abdomen bawah
-
Kateterisasi
Ditemukannya prostat membesar
F. PATOFISIOLOGI
Proses
pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada
saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan.
Pada tahap awal setelah terjadi
pembesaran prostat, resistensi pada leher-leher buli-buli dan daerah prostat
meningkat, serta otto detrosor menebal dan merangsang sehingga timbul sirkulasi
atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebuf fase kompensasi. Apabila
keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami
dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio
urin, yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronetrosis dan disfungsi seluran
kemih atas.
Adapun patofisiologi dari
masing-masing gejala adalah penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang
disebabkan resistensi uretra adalah gambaran awal dan menetap dari BPH.
-
Histologi terjadi destrusor
membutuhkan waktuy ang lama untuk dapat melawan iritensi uretra.
-
Intermittency terjadi karena
detrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminal
dribbling danrasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin
yang banyak dalam buli-buli.
-
Frekuen terjadi terutama pada
malam hari (nonturia) karena hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus
stringfer dan uretra berkurang selama tidur.
-
Urgensi dan disuria jarang
terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan detrusor sehingga terjadi
kontraksi involunter.
-
Inkontinensia bukan gejala yang
khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara
berkala kaena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum, tekanan dalam
buli-buli mencapai complience maksimum, tekanan dalam buli-buli akan cepat naik
melebihi tekanan stingter.
G. PATHWAYS
H. FOKUS INTERVENSI
1.
Pre Operasi
a.
Nyeri (akut) berhubungan dengan
retensi saluran kemih akut
Tujuan : Rasa
nyeri berkurang intensitas (5)
Kriteria hasil :
-
Keluhan rasa sakit berkurang
(intensitas (s)
-
Ekspresi wajah dan posisi tubuh
rileks
Intervensi :
-
Kaji nyeri, perhatikan lokasi,
intensitas (skala 0-10)
-
Beri pasien pada posisi nyaman
-
Pantau frekuensi nyeri,
berkurang atau tidak
-
Kolaborasi untuk pemberian
analgetik, pemasangan kateter.
-
Ajarkan teknik relaksasi dan
beri untuk membayangkan hal yang menyenangkan.
b. Perubahan
pola eliminasi urine : BAK sering, nokturia, menetes berhubungan dengan
pembesaran prostat.
Kriteria hasil : Pola eliminasi kembali normal (N = urine lampias,
tidak menetes, residu urine
100 cc).
Intervensi :
-
Kaji keluhan pasien
-
Observasi : warna, jumlah,
frekuensi, lamanya
-
Kaji ditingkat pengetahuan
pasien tentang perubahan pola eliminasi urine.
-
Jelaskan penyebab dan perubahan
pola eliminasi urine
-
Anjurkan minum air putih ± 2000
cc/hari bila tidak ada kontra indikasi.
-
Jelaskan pada pasien dan
keluarga tentang kemungkinan penanganan kateter sesuai program dokter.
-
Pasang kateter dengan teknik
steril (kolaborasi medis)
-
Monitor TTV
-
Observasi keluhan pasien
setelah pemasangan kateter, catat warna jumlah urine.
-
Rawat kateter setiap hari
dengan baik.
c. Resiko tinggi
terjadinya infeksi berhubungan dengan pemakaian kateter saluran kemih dan atau
retensi urine.
Kriteria hasil :
-
Suhu dalam batas normal (N = 36
oC – 37 oC)
-
Urine jernih, kuning, tanpa bau
-
Kandung kemih jelas tidak penuh
/ kembung.
Intervensi :
-
Kontrol suhu setiap 4 jam
sesuai kebutuhan bila suhu lebih 37,5 oC kolaborasi dokter, kalau perlu kompres
dan minum ekstra.
-
Perhatikan posisi kateter, jika
terpasang kateter uretra.
-
Gunakan teknik steril untuk
memasang kateter secara intermiten selama dirawat.
-
Monitor tanda-tanda infeksi
saluran kemih.
-
Gunakan teknik cuci tangan yang
baik, ajarkan dan
-
Anjurkan pasien untuk melakukan
hal yang sama.
d. Cemas
berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis penyakit.
Tujuan : cemas berkurang /
terkontrol setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : kecemasan
pasien berkurang.
Intervensi
-
Jalin hubungan saling percaya
antara perawat, pasien
-
Dengarkan keluhan pasien dengan
penuh perhatian
-
Kaji tingkat kecemasan pasien
-
Dampingi pasien dan beri
kesempatan untuk bertanya
-
Libatkan keluarga untuk memberi
support
-
Anjurkan pasien untuk berdoa
kepada Allah SWT
-
Berikan informasi bahwa kondisi
tidak ditularkan secara seksual.
2.
Post Operasi
a. Nyeri
akut berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, reflek spasme otot karna
prosedur operasi dan atau tekanan pada balon kandung kemih (traksi)
Tujuan : nyeri berkurang atau
terkontrol setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
-
Pasien mengungkapkan nyeri
hilang / terkontrol (rentang nyeri < 5)
-
Mendemonstrasikan teknik
relaksasi
Ekspresi wajah rileks, tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi
-
Kaji keluhan nyeri, lokasi,
intensitas (rentang – 10)
-
Anjurkan minum 2000 cc / hari,
sesuai kemampuan dan bila tidak ada kontra indikasi
-
Tingkatkan rasa nyaman pasien
(mengganti posisi, menggosok punggung, dll)
-
Ajarkan pasien untuk
menggunakan teknik relaksasi
-
Beri obat-obatan antispasmodik
sesuai program.
b. Perubahan
pola eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanis (bekuan darah, trauma
post operasi), tekanan dan iritasi balon kateter, hilangnya tonus kandung kemih
karena over distensi pre operasi atau dekompresi yang terus menerus.
Tujuan : Eliminasi dapat
lancar / tidak terganggu setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
-
Jumlah urine normal (1/2 – 1 cc
/ kg / BB / jam) tanpa retensi
-
Pasien menunjukkan perilaku
yang meningkatkan kontrol kandung kemih (mampu menahan bak sesuai keinginan).
Intervensi
-
Kaji pengeluaran urine (jumlah,
warna, konsisten) dan sistem kateter drain terutama bila dilakukan irigasi
kandung kemih.
-
Bantu pasien untuk posisi
normal dalam berkemih setelah kateter diangkat.
-
Catat keluhan kandung kemih
penuh, tidak dapat BAK, perasaan tidak dapta menahan BAK.
-
Anjurkan pasien BAK bila ada
rasa ingin berkemih, tetapi tidak lebih dari 2-4 jam
-
Ukur volume urine residu bila
ada kateter suprobubis (sistotomy)
-
Anjurkan minum ± 2000 cc/hari.
c. Resiko
tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan vaskularisasi daerah operasi
sukar pengontrolan perdarahan, pembatasan asupan makanan / cairan operasi.
Tujuan : volume cairan klien
terpenuhi setelah dilakuakn tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
-
Mempertahankan hidrasi yang
adekuat
-
Tanda vital stabil
-
Nadi perifer teraba, pengisian
kapiler baik
-
Membran mukosa lembab
-
Output urine (1/2 1 cc / kg / BB / jam)
Perdarahan minimal, terkontrol.
Intervensi :
-
Fiksasi kateter dengan tepat
-
Monitor outake, output
-
Observasi produk kateter,
perhatikan adanya perdarahan
-
Evaluasi warna, konsisten urine
-
Perhatikan balutan luka operasi
/ drain, catat pembentukan hematom
-
Monitor tanda-tanda vital
-
Tingkatkan asupan cairan ± 2000
cc / hari sesuai kondisi pasien
-
Tingkatkan trasi kateter,
fiksasi pada bagian paha sesuai program
-
Kolaborasi untuk pemeriksaan
darah rutine, uranum, creatinum, threapi infus / transfusi sesuai indikasi.
d. Resiko
tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, peralatan salama orepasi,
kateter, irigasi kandung kemih yang sering.
Tujuan : Tidak terjadi
infeksi setelah dilakuakn tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
-
Mencapai penyembuhan pada
waktunya. Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi
-
Jaga sterilisasi sistem
kateterisasi, rawat kateter secara teratur
-
Jaga drainase urine, hindari
masuknya urine kembali ke dalam kandung kemih
-
Monitor tanda-tanda vital,
perhatian adanya panas, demam, nadi dan pernafasan cepat, tidak dapat
istirahat, sensitif disorientasi
-
Obervasi cairan yang keluar
dari sekitar luka, kateter suprapubis ganti balut secara teratur
-
Beri antibiotika sesuai
program.
BAB II
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TN. A DENGAN
BENIGNA PROSTAT HIPERLASIA (BPH) POST PROSTAKTOMI SUPRA PUBIC DI RUANG A3
(BEDAH) RUMAH SAKIT DR. KARIADI SEMARANG
A. PENGKAJIAN pada tanggal 22 April 2005
1.
Identitas Pasien s
Nama :
Tn. A
Umur :
63 tahun
Alamat :
Kusuma Wardani No. K52 RT/RW 6/5 Pleburan
Semarang
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama :
Katholik
Suku Bangsa : Jawa / Indonesia
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan :
Pensiunan ABRI
Tanggal Masuk : 9 November 2005, jam 09.43 WIB
No. Register : 5179696
2.
Identitas Penanggung Jawab
Nama :
Ny. M
Umur :
70 tahun
Alamat :
Kusuma Wardani No. K52 RT/RW 6/5 Pleburan
Semarang
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan :
Ibu Rumah Tangga
Hubungan dengan pasien : sebagai istri
B.
RIWAYAT KESEHATAN
SEKARANG
1.
Keluhan Utama
Pada saat dilakukan Pengkajian klien mengatakan kalau batuk pada
daerah sekitar jahitan terasa sakit atau nyeri yaitu di daerah supra public
dengan skala nyeri 5. Dan nyeri muncul pada saat badan digerakkan untuk
membungkuk.
2.
Riwayat Penyakit Sekarang
Kurang lebih 9 bulan sebelum di rawat di rumah sakit pasien merasakan
sakit pada kandung kemihnya, tidak bisa buang air kecil, saat ingin BAK harus
mengenan. Kemudian pasien memutuskan untuk dipasang selang kateter yang
dilakuakn oelh dr Agus pasien pasien terpasang selang kateter selama ± 9 bulan.
Setelah selama 9 bulan pasien merasa prostatnya semakin membesar dan pasien
merasa tidak tahan dengan rasa sakitnya. Kemudian pasien dan keluarga
memutuskan untuk melakukan program operasi pada protesting dr. Didik di rumah
askit dr. Kariadi Semarang. Pada tanggal 9 November 2005 pasien di bawa ke
Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang masuk melalui UGD pada jam 09.43 WIB, dan
dilakukan pemeriksaan lab dan USG kemudian pasien dirawat di ruang A3 (bedah)
untuk tunggu program operasi. Setelah dilakukan persiapan pada tanggal 16 November
205 jam 11.15 dilakukan operasi prostat laktomi.
3.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan sejak tahun 2001 yang lalu merasakan ada kelainan
pada saluran kenangnya, pasien sering tidak bisa BAK pada malam hari dan ada
rasa nyeri saat BAK serat mengejan asat BAK akhirnya pasien periksa di dokter
dan melakukan rawat jalan. Setelah dilakuakan rawat jalan penyakit pasien
sembuh danpada tahun 2005 muncul lagi. Dan sebelumnya pasienpernah dirawat di
opname di rumah sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang. Dengan penyakit hemoroid
pada tahun 1968 dan dilakukan operasi. Pada tahun 1978 pasien pernah dirawat di
rumah sakti yang sama untuk dilakukan operasi katarak.
4.
Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga pasien belum atau tidak ada yang menderita penyakit
seperti yang diderita Tn. A. Keluarga klien juga belum ada yang pernah di
opname di rumah sakit. Dan pada keluarga klien tidak ada penyakit manular atau
penyakit keturunan seperti Diabetes Melitus, Hipertensi.
C. PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL
1.
Pola Eliminasi
Sebelum di rawat di rumah sakit dan sebelum dilakukan
prostaktomi, pasien sering kesulitan saat buang air kecil dan ada rasa nyeri
pada saat buang air kecil. Jumlah urine yang keluar sedikit dengan warna
jernih.
Setelah dilakukan prostatokmi pasien terpasang kateter
dan terpasang selang drain. Warna urin kemurahan karena bercampur darah, jumlah
urine 1000 CC.
Sebelum dirawat di rumah sakti dan sebelum dilakukan
prostoktomi, paien biasa BAB 1 kali dan sehari dengan konsistensi lunak dan
saat dilakukan pengkajain pasien sudah dapat BAB 1 kali dalam sehari dengan
konsistensi lunak dan sudah seperti biasa.
2.
Kenyamanan
Pasien mengatakan nyeri pada saat batuk dan nyeri timbul
saat badan klien Digerakkan untuk membungkuk. Pada daerah sekitar jahitan atau
daerah supra pubis dengan skala nyeri 5.
3.
Pola Nutrisi
Sebelum di rawat di rumah sakit pasien makan 3 kali
sehari dengan nasi, sayur dan lauk. Baisnya 6-7 gelas sehari dan setelah di
rumah sakit ataui saat dikaji kilen mengatakan kalau makan sudah seperti
biasanya yaitu makan 3 x sehari dengan nasi, sayur dan lauk tetapi tidak
dihabiskan dan minum hanya 5-6 gelas sehari.
4.
Keamanan
Pasien tidak merasakan demam pada tubuhnya, suhu stabil
dan saat dikaji suhu pasien 365 oC
5.
Sirkulasi
Pada saat dikaji tekanan darah pasien 130/80 mmHg dan
tidak ada akral dingin.
6.
Mobilitas Fisik
Sebelum dilakukan prostaktomi pasien dapat beraktifitas
seperti biasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, personal hygiene dilakukan
sendiri di kamar mandi. Setelah dilakukan prostaktomi kebutuhan sehari-hari
dibantu oleh keluarga dan perawat karena pasien masih takut untuk buat bergerak
atau beraktifitas.
7.
Seksualitas
Pasien merasa masih nyeri pada daerah kandung kemih
sehingga pasien masih takut untuk melakukan seksualitasnya.
D. PENGKAJIAN FISIK
Keadaan Umum : Baik
Tingkat Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital : TD : 130/80 mmHg
Suhu badan : 365 oC
Nadi : 80 x/menit
Pernafasan : 24 x / menit
Kepala : Bentuk mesochepal
Rambut : Warna
Putih, lurus, tidak ada ketombe
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, tidak simetris,
tidak ada secret.
Hidung : Tidak
terdapat suptum deviasi, tidak ada secret, tidak ada polip.
Telinga : Bentuk
simetris, tidak ada secret
Mulut : Selaput
mukosa kering, tidak ada karies gigi, bibir kering.
Leher : Tidak
ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran tiroid
Dada dan
thorak : Bentuk dada simetris, pergerakan simetris
Paru-paru :
Inspeksi : Ekspansi
paru simetris, bentuk normal
Perkusi : Suara
paru resonan
Palpasi : Pergerakan
dada simetris
Auskultasi
: Tidak
ada suara wheezing dan ronchi
Jantung :
Inspeksi : Simetris
Perkusi : Banyi
jantung normal
Palpasi : Irama
jantung normal / reguler
Auskultasi
: Tidak
ada suara gallap
Abdomen :
Inspeksi : Adanya
luka post operasi, balutan pada luka bersih, terpasang drain.
Auskultasi : Bising
usus normal yaitu 16 x / menit
Perkusi : Ada
suara timpani
Palpasi : Tidak
ada pembesaran hepar
Genital :
Tidak ada luka, terpasang kateter No. 22,
tidak ada tanda infeksi pada area pemasangan kateter.
Kulit : Turgor kulit cukup baik, warna sawo matang tidak ada edema.
Ekstermitas
:
Atas : Kulit kotor, warna sawo matang, tidak ada edema, turgor cukup baik,
kuku bersih, terpasang infus RL 20 tts/menit pada tangan kiri tidak ada infeksi.
Bawah : Tidak
ada edema, kuku kotor, tidak ada luka.
E.
DATA PENUNJANG
Pada tanggal 16 November 2005
Hematology
|
Normal
|
|
Hemoglobin
Hemotokrit
Eritrosit
MCH
MCV
MCHV
Leukosit
Trombosit
|
: 10.5 gr %
: 30.0 %
: 3.34 juta/mmk
: 31.40 Pg
: 89.80 Fl
: 35.00 g/dl
: 12.30 ribu / mmk
: 152.0 ribu/mmk
|
12.00 – 15.00 gr %
40.00 – 54.0 %
4.50 – 6.50 juta/mmk
27.00 – 32.00 Pg
76.00 – 96.00 Fl
29.00 – 36.00 g/dl
4.00 – 11.00 ribu / mmk
150.0 – 400.0 ribu/mmk
|
Hasil lab. mikrobiologi
klinik pada tanggal 15 November 2006
Urine : kultur + sensitif
Therapy : tanggal 22 November
2005
Parenteral : Cipofloxaxin 2 x 500
Blader draining
Cravit 1 x 1
Kultrazim 3 x 1
Cairan infus : RL 20 tts/menit
F. DIAGNOSA KEPERAWATAN
- Pengelompokkan Data
Data Subyektif :
-
Pasien mengatakan nyeri pada
daerah sekitar jahitan jika batuk
-
Skala nyeri 5
-
Klien mengatakan nyeri muncul
pada saat badan Digerakkan untuk membungkuk.
-
Klien mengatakan jika BAK urin
yang keluar hanya sedikit.
Data Obyektif :
-
Klien terlihat menahan sakit
dan meringis
-
Pasien terpasang kateter dan
drain
-
Warna urine agak kemurahan dan
jumlpah sebanyak 1000 ml
-
Adanya luka insisi / post
operasi
-
Adanya balutan luka insisi
-
Aktivitas klien dibatnu oleh
keluarganya
- Analisa Data
No
|
Tgl
|
Data (DS dan DO)
|
Etiologi
|
Problem
|
TTd
|
1.
|
22/11 2005
|
DS : Klien mengatakan nyeri pada asat batuk pada
daerah jahitan skala nyeri 5.
DO : Klien terlihat menahan sakit /
meringis.
|
Spasme otot sehubungan dengan luka post operasi.
|
Gangguan rasa nyaman nyeri
|
|
2.
|
22/11 2005
|
DS : Klien mengatakan jika BAK urin yang keluar
hanya sedikit.
DO : Urin yang keluar berjumlah 1000 cc/hari
|
Infeksi residual urine
|
Perubahan eliminasi disuria
|
|
3.
|
22/11 2005
|
DS : Klien mengatakan jika untuk bergerak.
DO : Adanya balutan luka insuisi.
Aktivitas
pasien dibantu oleh keluarganya
|
Nyeri luka insisi
|
Mobilisasi fisik.
|
I
|
- Diagnosa Keperawatan
a.
Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan otot sehubungan dengan luka post operasi ditandai dengan
klien mengatakan nyeri pada saat batuk pada daerah jahitan dengan skala nyeri
5, klien terlihat menahan nyeri dan meringis.
b.
Perubahan eliminasi disuria
berhubungan dengan residual urine ditandai dengan klien mengatakan jika BAK
urin yang keluar hanya sedikit, urin yang keluar berjumlah 1000 cc / hari.
c.
Imobilisasi fisik berhubungan
dengan nyeri luka insisi ditandai dengan klien mengatakan nyeri jika untuk
bergerak, adanya luka insisi, aktifitas pasien di bantu oleh keluarganya.
G. PERENCANAAN
1.
Gangguan rasa nyaman nyeri
berhubungan dengan otot sehubungan dengan luka post operasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
selaam 1 x 30 menit rasa nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
-
Nyeri yang dirasakan pasien
berkurang dari skala 5 menjadi 3
-
Pasien mengatakan jika untuk
bergerak tidak menimbulkan nyeri
-
Agar pasien tampak rileks,
tidur / istirahat dengan tenang.
Intervensi :
-
Kaji skala nyeri, lokasi
intensitas (skala 0-10)
-
Pertahankan kateter dari
lakukan
-
Bantu penggunaan teknik
relaksasi dan pengubahan posisi
2. Perubahan eliminasi disuria berhubungand
enggan infeksi residual urine
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan dapat berkemih dengan normal dan tidak
terjadi retensi.
Kriteria hasil :
-
Tidak ada retensi urine
-
Perubahan eliminasi disuria
dapat diatasi
Intervensi :
-
Kaji haluaran urine dan
karakteristik urine
-
Bantu pasien memilih posisi
yang nyaman waktu berkemih
-
Dorong masukan cairan 2,5 – 3
liter sesuai advis dokter dan batasi cairan pada malam hari setelah kateter
dilepas
-
Perhatiakn waktu, jumlah aliran
kateter dan kesulitan berkemih.
3. Imobilitas fisik berhubungan dengan nyeri
luka insisi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 2 x 24 jam pasien dapat mobilisasi sesuai toleransi.
Kriteria hasil :
-
Pasien mengatakan bila
beraktifitas sesuai dengan toleransi
-
Aktifitas dapat dilakukan
sendiri secara bertahap tanpa bantuan keluarga
Intervensi :
-
Kaji status nyeri saat
beraktifitas
-
Motivasi pasien untuk melakukan
ubah posisi secara bertahap sesuai kemampuan
-
Memotivasi untuk melaklukan
gerakan ringan
-
Berikan gerak latihan aktif /
pasif.
Perhatikan waktu, jumlah aliran
kateter dan kesulitan berkemih
H. IMPLEMENTASI
Tgl
& Jam
|
No
Dx
|
Implementasi
|
Respon
Pasien
|
TTD
|
22-11 2005
14.30
|
1,3
|
Mengkaji skala nyeri, lokasi
intensitas (0-10)
Mengkaji status nyeri saat
beraktifitas
|
DS : Klien
mengatakan nyeri pada bekas jahitan pada saat dibuat batuk, dengan skala
nyeri 5
DO : Ada
luka insisi dan balutan.
|
|
1
|
Mempertahankan selang kateter
dari lakukan.
|
DS : -
DO : Aliran
urin dapat mengalir dengan lancar
|
||
15.00
|
1
|
Membantu penggunaan teknik
relaksasi pada saat muncul nyeri
|
DS : Pasien
mengatakan merasa nyaman.
DO : Klien
terlihat tenang.
|
|
2
|
Mengkaji keluaran urin dan
karakteristik urin
|
DS : Klien
mengatakan pada saat BAK urin keluar sedikit.
DO : Urin
keluar 1000 cc/hari
|
||
15.30
|
2
|
Menganjurkan klien untuk berkemih
jika ada dorongan untuk berkemih.
|
DS : Klien
mau melakukannya.
DO : Klien
sedang berkemih.
|
|
16.30
|
3
|
Memotivasi untuk melakukan ubah
posisi secara bertahap sesuai kemampuan.
|
DS : Klien
mau melakukannya
DO : Klien
menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan.
|
|
3
|
Memotivasi untuk melakukan
gerakan ringan.
|
DS : Klien
mau melakukannya
DO : Klien
menggerakkan kaki satu per satu.
|
||
18.00
|
2
|
Mendorong masukan cairan 2,5 – 3
liter sesuai advis dokter.
|
DS : -
DO : Klien
sedang minum air Putih.
|
|
22-Nov 2005
22.00
|
1,2
|
Memonitor keadan umum klien.
|
DS : -
DO : Keadaan
klien baik
|
|
24-Nov
2005
06.00
|
Mengkaji status nyeri klien dan
mengkaji keluaran urin dan karakteristik urin.
|
DS : Klien
mengatakan nyeri berkurang
DO : -
Klien terlihat tenang
- Urine yang keluar 1500 cc/hr
- Karakteristik urin jernih
|
I. EVALUASI
Tgl/
Jam
|
No
|
Catatan Perkembangan
|
Ttd
|
24 Nov
2005
06.00
|
1
|
S : Klien
mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri 4
O : Klien
terlihat tenang
A : Masukan
teratasi sebagian
P : Lanjutkan
intervensi :
-
Kaji status nyeri intensitas,
lokasi
-
Monitor keadaan umum klien
-
Anjurkan dengan menggunakan
teknik relaksasi saat nyeri timbul.
|
|
2
|
S : Klien
mengatakan saat BAK sudah agak lancar
O : Urin
yang keluar 1500 cc / hari, urin jernih
A : Masalah
teratasi sebagian
P : Lanjutkan
intervensi :
-
Kaji keluaran urin dan
karakteristik
-
Dorong klien untuk berkemih
jika ada dorongan untuk berkemih.
-
Motivasi klien untuk masukan
cairan 2,5 – 3 liter sesuai advis dokter
|
||
3
|
S : -
O : Klien
sedang latihan gerakan ringan. Klien sedang dudik.
A : Masalah
teratasi sebagian
P : Lanjutkan
intervensi :
-
Motivasi klien untuk
melakukan ubah posisi ke kanan dan ke kriri
-
Motivasi klien untuk gerakan
ringan
-
Bantu klien untuk
beraktifitas sehari-hari
|
DAFTAR PUSTAKA
Suddart
& Brunner, 2001, Keperawatan Medical Bedah, Edisi 8, Jakarta, EGC.
Kapita
Selekta Kedokteran, 2000, Edisi 3, FK UI, Jakarta.
Doenges
Marlynn E, 2000, Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Barbara
C. Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah 3, Alih Bahasa : Yayasan IAPK,
Padjajaran Bandung.
Doenges,
Marilyn E, 2000, Rencana Asuhan Keperawtan Edisi 3, Alih Bahasa I Made
Kariasa, Jakarta : EGC.
Sylvia
A. Pricwe, 1996, Loraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses,
Edisi 4, Jakarta : EGC.
Carpenito, J.L, Rencana
Asuhan dan Dokumentasi Edisi 2, Jakarta : EGC.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking