Woensdag 03 April 2013

ASKEP - Benigna Hiper Plasia (BPH)



BAB I                                                         
PENDAHULUAN
A.    PENGERTIAN
Hiperplasia prostatik jinak merupakan kelenjar prostatnya mengalami perbesaran memanjang ke atas ke dalam kandung kemiH dan menyumbat aliran urin dengan menutupi orifusium uretra. (Brunner A. Suddart, 2001)
Hiperplasia prostat merupakan pembesaran progresif dari kelenjar prostat (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius. (Marlynn E. Doenges, 2000)
Hipertrofi prostat adalah bertambahnya sel atau chali hiperlasia dari kelenjar periurotral yang akan mendesak kelenjar prostat, sehingga mengakibatkan kelenjar prostat menjadi gepeng dan akan membentuk kapsul prostat. (Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Baca Selengkapnya

B.     ETIOLOGI
Etiologi BPH belum jelas namun terdapat faktor resiko dan hormon androgen. Perubahan mikroskopik pada prostat telah terjadi pada pria usia 30-40 tahun. Bila perubahan mikroskopik ini berkembang, akan terjadi perubahan patologik anatomi yang ada pria usia 50 tahun angka kejadianyna sekitar 50%, usia 80 tahun sekitar 80% dan usia 90 tahun 100%.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000)

C.    MANIFESTASI KLINIK
Biasanya gejala-gejala pembesaran prostat jinak, dikenal sebagai lower urinary tract symptoms (LUTS) dibedakan menjadi gejala iritatif dan obstruktif. Gejala iritatif yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam  hari (nokturia), perasaan miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria).
Gejala obstruktif adalah pancaran melemah, rasa tidak lampias sehabis miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama (hesitancy), harus mengedan (straining), kencing terputus-putus (intermittency) dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensio urin dan inkontinen karena over flow.
(Kapita Selekta Kedokteran, 2000)
Kompleks gejala obstruktif dan iritatif mencakup :
a.       Peningaktan frekuensi berkemih
b.      Nokturia
c.       Dorongan ingin berkemih
d.      Anyang-anyangan
e.       Abdomen tegang
f.       Voluem urin menurun
g.      Harus mengejan saat berkemih
h.      Aliran urin tidak lancar
i.        Urin terus menerus menetes setelah berkemih (dribbling)
j.        Rasa seperti kandung kemih tidak kosong dengan baik
(Brunner & Suddarth, 2001)

D.    FOKUS PENGKAJIAN
1.      Sirkulasi
Tanda : peninggian tekanan darah (efek pembesaran ginjal).
2.      Eliminasi
Gejala   : 
-          Penurunan kekuatan atau dorongan aliran urine, tetesan
-          Keragu-raguan pada berkemih awal 
-      Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap,  dorongan dan frekuensi berkemih.
-          Nukturia, disuria, hematuria
-          Duduk untuk berkemih
-          ISK berulang, riwayat batu (statis urinaria)
-          Konstipasi (protrusi prostat abdomen bawah (dispensi kandung)
Tanda   :  Massa padat di bawah abdomen bawah (disfensi kandung kemih), nyeri tekan kandung kemih.
3.      Makanan / cairan
Gejala :    Anoreksia; mual, muntah
                Penurunan berat badan
4.      Nyeri/ kenyamanan
Gejala   :  Nyeri suprapubis, panggul, atau punggung, tajam, kuat (pada prostatitis akut).
                Nyeri punggung bawah.
5.      Keamanan
Gejala   :  Demam
6.      Seksualitas
Gejala   :  Masalah tentang efek kondisi / terapi pada kemampuan seksual.
                Takut inkontmensia / menetas selama hubungan intim.
                Penurunan kekuatan kontraksi ejakulasi.
Tanda   :  Pembesaran, nyeri tekan prostat
7.      Penyuluhan / Pembelajaran
       Gejala   :  Riwayat keluarga kanker, hipertensi, penyakit ginjal, penggunaan antipertensif / anti depreson, anti biotic urinaria atau agen antibiotik, obat yang dijual bebas untuk flu / alergi obat mengangung simpatomimetik.
Pertimbangan :
Rencana Pemulangan : memerlukan bantuan dengan menajemen terapi, contoh kateter.
(Marylnn E. Doenges)
E.     PEMERIKSAAN FISIK
1.      Pemeriksaan Laboratorium
-          Urine analisa (rutine)
-          Urine biakan dan resistensi
-          Ureum darah, fosfatosa asam, leukosit
-          Pemeriksaan prostate spesific antigen (PSA)
2.      Pemeriksaan Diagnostik
-          Sitoskopi – sistogram
-          USG abdomen bawah
-          Kateterisasi
Ditemukannya prostat membesar

F.     PATOFISIOLOGI
Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan.
Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher-leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otto detrosor menebal dan merangsang sehingga timbul sirkulasi atau divertikel. Fase penebalan detrusor ini disebuf fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin, yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronetrosis dan disfungsi seluran kemih atas.
Adapun patofisiologi dari masing-masing gejala adalah penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang disebabkan resistensi uretra adalah gambaran awal dan menetap dari BPH.
-          Histologi terjadi destrusor membutuhkan waktuy ang lama untuk dapat melawan iritensi uretra.
-          Intermittency terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi resistensi uretra sampai akhir miksi. Terminal dribbling danrasa belum puas sehabis miksi terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam buli-buli.
-          Frekuen terjadi terutama pada malam hari (nonturia) karena hambatan normal dari korteks berkurang dan tonus stringfer dan uretra berkurang selama tidur.
-          Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidakstabilan detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.
-          Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara berkala kaena setelah buli-buli mencapai compliance maksimum, tekanan dalam buli-buli mencapai complience maksimum, tekanan dalam buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan stingter.


G.    PATHWAYS
H.    FOKUS INTERVENSI
1.      Pre Operasi
a.       Nyeri (akut) berhubungan dengan retensi saluran kemih akut
Tujuan     :  Rasa nyeri berkurang intensitas (5)
Kriteria hasil :
-          Keluhan rasa sakit berkurang (intensitas (s)
-          Ekspresi wajah dan posisi tubuh rileks
Intervensi :
-          Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10)
-          Beri pasien pada posisi nyaman
-          Pantau frekuensi nyeri, berkurang atau tidak
-          Kolaborasi untuk pemberian analgetik, pemasangan kateter.
-          Ajarkan teknik relaksasi dan beri untuk membayangkan hal yang menyenangkan.

b.   Perubahan pola eliminasi urine : BAK sering, nokturia, menetes berhubungan dengan pembesaran prostat.
Kriteria hasil :   Pola eliminasi kembali normal (N = urine lampias, tidak menetes, residu urine  100 cc).
Intervensi :
-          Kaji keluhan pasien
-          Observasi : warna, jumlah, frekuensi, lamanya
-          Kaji ditingkat pengetahuan pasien tentang perubahan pola eliminasi urine.
-          Jelaskan penyebab dan perubahan pola eliminasi urine
-          Anjurkan minum air putih ± 2000 cc/hari bila tidak ada kontra indikasi.
-          Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang kemungkinan penanganan kateter sesuai program dokter.
-          Pasang kateter dengan teknik steril (kolaborasi medis)
-          Monitor TTV
-          Observasi keluhan pasien setelah pemasangan kateter, catat warna jumlah urine.
-          Rawat kateter setiap hari dengan baik.

c.   Resiko tinggi terjadinya infeksi berhubungan dengan pemakaian kateter saluran kemih dan atau retensi urine.
Kriteria hasil :
-          Suhu dalam batas normal (N = 36 oC – 37 oC)
-          Urine jernih, kuning, tanpa bau
-          Kandung kemih jelas tidak penuh / kembung.
Intervensi :
-          Kontrol suhu setiap 4 jam sesuai kebutuhan bila suhu lebih 37,5 oC kolaborasi dokter, kalau perlu kompres dan minum ekstra.
-          Perhatikan posisi kateter, jika terpasang kateter uretra.
-          Gunakan teknik steril untuk memasang kateter secara intermiten selama dirawat.
-          Monitor tanda-tanda infeksi saluran kemih.
-          Gunakan teknik cuci tangan yang baik, ajarkan dan
-          Anjurkan pasien untuk melakukan hal yang sama.

d.   Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis penyakit.
Tujuan : cemas berkurang / terkontrol setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil : kecemasan pasien berkurang.
Intervensi
-          Jalin hubungan saling percaya antara perawat, pasien
-          Dengarkan keluhan pasien dengan penuh perhatian
-          Kaji tingkat kecemasan pasien
-          Dampingi pasien dan beri kesempatan untuk bertanya
-          Libatkan keluarga untuk memberi support
-          Anjurkan pasien untuk berdoa kepada Allah SWT
-          Berikan informasi bahwa kondisi tidak ditularkan secara seksual.

2.      Post Operasi
a.    Nyeri akut berhubungan dengan iritasi mukosa kandung kemih, reflek spasme otot karna prosedur operasi dan atau tekanan pada balon kandung kemih (traksi) 
Tujuan : nyeri berkurang atau terkontrol setelah dilakukan tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
-          Pasien mengungkapkan nyeri hilang / terkontrol (rentang nyeri < 5)
-          Mendemonstrasikan teknik relaksasi
Ekspresi wajah rileks, tidur / istirahat dengan tepat.
Intervensi
-          Kaji keluhan nyeri, lokasi, intensitas (rentang – 10)
-          Anjurkan minum 2000 cc / hari, sesuai kemampuan dan bila tidak ada kontra indikasi
-          Tingkatkan rasa nyaman pasien (mengganti posisi, menggosok punggung, dll)
-          Ajarkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi
-          Beri obat-obatan antispasmodik sesuai program.

b.   Perubahan pola eliminasi urine berhubungan dengan obstruksi mekanis (bekuan darah, trauma post operasi), tekanan dan iritasi balon kateter, hilangnya tonus kandung kemih karena over distensi pre operasi atau dekompresi yang terus menerus.
Tujuan : Eliminasi dapat lancar / tidak terganggu setelah dilakukan tindakan keperawatan. 


Kriteria hasil :
-          Jumlah urine normal (1/2 – 1 cc / kg / BB / jam) tanpa retensi
-          Pasien menunjukkan perilaku yang meningkatkan kontrol kandung kemih (mampu menahan bak sesuai keinginan).
Intervensi
-          Kaji pengeluaran urine (jumlah, warna, konsisten) dan sistem kateter drain terutama bila dilakukan irigasi kandung kemih.
-          Bantu pasien untuk posisi normal dalam berkemih setelah kateter diangkat.
-          Catat keluhan kandung kemih penuh, tidak dapat BAK, perasaan tidak dapta menahan BAK.
-          Anjurkan pasien BAK bila ada rasa ingin berkemih, tetapi tidak lebih dari 2-4 jam
-          Ukur volume urine residu bila ada kateter suprobubis (sistotomy)
-          Anjurkan minum ± 2000 cc/hari.

c.    Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan vaskularisasi daerah operasi sukar pengontrolan perdarahan, pembatasan asupan makanan / cairan operasi.  
Tujuan : volume cairan klien terpenuhi setelah dilakuakn tindakan keperawatan.
Kriteria hasil :
-          Mempertahankan hidrasi yang adekuat
-          Tanda vital stabil
-          Nadi perifer teraba, pengisian kapiler baik
-          Membran mukosa lembab
-          Output urine (1/2  1 cc / kg / BB / jam)
Perdarahan minimal, terkontrol.
Intervensi :
-          Fiksasi kateter dengan tepat
-          Monitor outake, output
-          Observasi produk kateter, perhatikan adanya perdarahan
-          Evaluasi warna, konsisten urine
-          Perhatikan balutan luka operasi / drain, catat pembentukan hematom
-          Monitor tanda-tanda vital
-          Tingkatkan asupan cairan ± 2000 cc / hari sesuai kondisi pasien
-          Tingkatkan trasi kateter, fiksasi pada bagian paha sesuai program
-          Kolaborasi untuk pemeriksaan darah rutine, uranum, creatinum, threapi infus / transfusi sesuai indikasi.

d.   Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan prosedur invasif, peralatan salama orepasi, kateter, irigasi kandung kemih yang sering.  
Tujuan : Tidak terjadi infeksi setelah dilakuakn tindakan keperawatan
Kriteria hasil :
-          Mencapai penyembuhan pada waktunya. Tidak ada tanda-tanda infeksi
Intervensi
-          Jaga sterilisasi sistem kateterisasi, rawat kateter secara teratur
-          Jaga drainase urine, hindari masuknya urine kembali ke dalam kandung kemih
-          Monitor tanda-tanda vital, perhatian adanya panas, demam, nadi dan pernafasan cepat, tidak dapat istirahat, sensitif disorientasi
-          Obervasi cairan yang keluar dari sekitar luka, kateter suprapubis ganti balut secara teratur
-          Beri antibiotika sesuai program.


BAB II
RESUME ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN TN. A DENGAN BENIGNA PROSTAT HIPERLASIA (BPH) POST PROSTAKTOMI SUPRA PUBIC DI RUANG A3 (BEDAH) RUMAH SAKIT DR. KARIADI SEMARANG

A.    PENGKAJIAN pada tanggal 22 April 2005

1.      Identitas Pasien s
Nama                         : Tn. A
Umur                         : 63 tahun
Alamat                       : Kusuma Wardani No. K52 RT/RW 6/5 Pleburan
                                    Semarang
Jenis Kelamin            : Laki-laki
Agama                       : Katholik
Suku Bangsa             : Jawa / Indonesia
Status Perkawinan     : Kawin
Pekerjaan                   : Pensiunan ABRI
Tanggal Masuk          : 9 November 2005, jam 09.43 WIB
No. Register              : 5179696

2.      Identitas Penanggung Jawab
Nama                         : Ny. M
Umur                         : 70 tahun
Alamat                       : Kusuma Wardani No. K52 RT/RW 6/5 Pleburan
                                    Semarang
Jenis Kelamin            : Perempuan
Pekerjaan                   : Ibu Rumah Tangga
Hubungan dengan pasien : sebagai istri



B.     RIWAYAT KESEHATAN SEKARANG
1.      Keluhan Utama
Pada saat dilakukan Pengkajian klien mengatakan kalau batuk pada daerah sekitar jahitan terasa sakit atau nyeri yaitu di daerah supra public dengan skala nyeri 5. Dan nyeri muncul pada saat badan digerakkan untuk membungkuk.
2.      Riwayat Penyakit Sekarang
Kurang lebih 9 bulan sebelum di rawat di rumah sakit pasien merasakan sakit pada kandung kemihnya, tidak bisa buang air kecil, saat ingin BAK harus mengenan. Kemudian pasien memutuskan untuk dipasang selang kateter yang dilakuakn oelh dr Agus pasien pasien terpasang selang kateter selama ± 9 bulan. Setelah selama 9 bulan pasien merasa prostatnya semakin membesar dan pasien merasa tidak tahan dengan rasa sakitnya. Kemudian pasien dan keluarga memutuskan untuk melakukan program operasi pada protesting dr. Didik di rumah askit dr. Kariadi Semarang. Pada tanggal 9 November 2005 pasien di bawa ke Rumah Sakit Dr. Kariadi Semarang masuk melalui UGD pada jam 09.43 WIB, dan dilakukan pemeriksaan lab dan USG kemudian pasien dirawat di ruang A3 (bedah) untuk tunggu program operasi. Setelah dilakukan persiapan pada tanggal 16 November 205 jam 11.15 dilakukan operasi prostat laktomi.
3.      Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengatakan sejak tahun 2001 yang lalu merasakan ada kelainan pada saluran kenangnya, pasien sering tidak bisa BAK pada malam hari dan ada rasa nyeri saat BAK serat mengejan asat BAK akhirnya pasien periksa di dokter dan melakukan rawat jalan. Setelah dilakuakan rawat jalan penyakit pasien sembuh danpada tahun 2005 muncul lagi. Dan sebelumnya pasienpernah dirawat di opname di rumah sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang. Dengan penyakit hemoroid pada tahun 1968 dan dilakukan operasi. Pada tahun 1978 pasien pernah dirawat di rumah sakti yang sama untuk dilakukan operasi katarak.


4.      Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga pasien belum atau tidak ada yang menderita penyakit seperti yang diderita Tn. A. Keluarga klien juga belum ada yang pernah di opname di rumah sakit. Dan pada keluarga klien tidak ada penyakit manular atau penyakit keturunan seperti Diabetes Melitus, Hipertensi.

C.    PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL

1.      Pola Eliminasi
Sebelum di rawat di rumah sakit dan sebelum dilakukan prostaktomi, pasien sering kesulitan saat buang air kecil dan ada rasa nyeri pada saat buang air kecil. Jumlah urine yang keluar sedikit dengan warna jernih.
Setelah dilakukan prostatokmi pasien terpasang kateter dan terpasang selang drain. Warna urin kemurahan karena bercampur darah, jumlah urine 1000 CC.
Sebelum dirawat di rumah sakti dan sebelum dilakukan prostoktomi, paien biasa BAB 1 kali dan sehari dengan konsistensi lunak dan saat dilakukan pengkajain pasien sudah dapat BAB 1 kali dalam sehari dengan konsistensi lunak dan sudah seperti biasa.
2.      Kenyamanan
Pasien mengatakan nyeri pada saat batuk dan nyeri timbul saat badan klien Digerakkan untuk membungkuk. Pada daerah sekitar jahitan atau daerah supra pubis dengan skala nyeri 5.
3.      Pola Nutrisi
Sebelum di rawat di rumah sakit pasien makan 3 kali sehari dengan nasi, sayur dan lauk. Baisnya 6-7 gelas sehari dan setelah di rumah sakit ataui saat dikaji kilen mengatakan kalau makan sudah seperti biasanya yaitu makan 3 x sehari dengan nasi, sayur dan lauk tetapi tidak dihabiskan dan minum hanya 5-6 gelas sehari.
4.      Keamanan
Pasien tidak merasakan demam pada tubuhnya, suhu stabil dan saat dikaji suhu pasien 365 oC
5.      Sirkulasi
Pada saat dikaji tekanan darah pasien 130/80 mmHg dan tidak ada akral dingin.
6.      Mobilitas Fisik
Sebelum dilakukan prostaktomi pasien dapat beraktifitas seperti biasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, personal hygiene dilakukan sendiri di kamar mandi. Setelah dilakukan prostaktomi kebutuhan sehari-hari dibantu oleh keluarga dan perawat karena pasien masih takut untuk buat bergerak atau beraktifitas.
7.      Seksualitas
Pasien merasa masih nyeri pada daerah kandung kemih sehingga pasien masih takut untuk melakukan seksualitasnya.

D.    PENGKAJIAN FISIK

Keadaan Umum     : Baik
Tingkat Kesadaran : Composmentis
Tanda-tanda vital   : TD : 130/80 mmHg
                                  Suhu badan : 365 oC
                                  Nadi : 80 x/menit
                                  Pernafasan : 24 x / menit
Kepala                    : Bentuk mesochepal
Rambut            : Warna Putih, lurus, tidak ada ketombe
Mata                 :  Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, tidak simetris, tidak ada secret.
Hidung             :  Tidak terdapat suptum deviasi, tidak ada secret, tidak ada polip.
Telinga             :  Bentuk simetris, tidak ada secret
Mulut               :  Selaput mukosa kering, tidak ada karies gigi, bibir kering.
Leher                :  Tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran tiroid
Dada dan thorak    :  Bentuk dada simetris, pergerakan simetris


Paru-paru                :
Inspeksi            :  Ekspansi paru simetris, bentuk normal
Perkusi             :  Suara paru resonan
Palpasi              :  Pergerakan dada simetris
Auskultasi        : Tidak ada suara wheezing dan ronchi
Jantung                   :
Inspeksi            :  Simetris 
Perkusi             :  Banyi jantung normal
Palpasi              :  Irama jantung normal / reguler
Auskultasi        : Tidak ada suara gallap
Abdomen               :
Inspeksi            :  Adanya luka post operasi, balutan pada luka bersih, terpasang drain. 
Auskultasi        :  Bising usus normal yaitu 16 x / menit
Perkusi             :  Ada suara timpani
Palpasi              :  Tidak ada pembesaran hepar
Genital                    : Tidak ada luka, terpasang kateter No. 22, tidak ada tanda infeksi pada area pemasangan kateter.
Kulit                       :  Turgor kulit cukup baik, warna sawo matang tidak ada edema.
Ekstermitas             :
Atas                  :  Kulit kotor, warna sawo matang, tidak ada edema, turgor cukup baik, kuku bersih, terpasang infus RL 20 tts/menit pada tangan kiri tidak ada infeksi.
Bawah              :  Tidak ada edema, kuku kotor, tidak ada luka.



E.     DATA PENUNJANG
Pada tanggal 16 November 2005
Hematology

Normal
Hemoglobin
Hemotokrit
Eritrosit
MCH
MCV
MCHV
Leukosit
Trombosit
: 10.5 gr %
: 30.0 %
: 3.34 juta/mmk
: 31.40 Pg
: 89.80 Fl
: 35.00 g/dl
: 12.30 ribu / mmk
: 152.0 ribu/mmk
12.00 – 15.00 gr %
40.00 – 54.0 %
4.50 – 6.50 juta/mmk
27.00 – 32.00 Pg
76.00 – 96.00 Fl
29.00 – 36.00 g/dl
4.00 – 11.00 ribu / mmk
150.0 – 400.0 ribu/mmk
Hasil lab. mikrobiologi klinik pada tanggal 15 November 2006
Urine : kultur + sensitif
Therapy : tanggal 22 November 2005
Parenteral :    Cipofloxaxin 2 x 500
                      Blader draining
                      Cravit 1 x 1
                      Kultrazim 3 x 1
Cairan infus :          RL 20 tts/menit

F.     DIAGNOSA KEPERAWATAN

  1. Pengelompokkan Data
Data Subyektif :
-          Pasien mengatakan nyeri pada daerah sekitar jahitan jika batuk
-          Skala nyeri 5
-          Klien mengatakan nyeri muncul pada saat badan Digerakkan untuk membungkuk.
-          Klien mengatakan jika BAK urin yang keluar hanya sedikit.
Data Obyektif  :
-          Klien terlihat menahan sakit dan meringis
-          Pasien terpasang kateter dan drain
-          Warna urine agak kemurahan dan jumlpah sebanyak 1000 ml
-          Adanya luka insisi / post operasi
-          Adanya balutan luka insisi
-          Aktivitas klien dibatnu oleh keluarganya

  1. Analisa Data
No
Tgl
Data (DS dan DO)
Etiologi
Problem
TTd
1.
22/11 2005
DS  :  Klien mengatakan nyeri pada asat batuk pada daerah jahitan skala nyeri 5.
DO :  Klien terlihat menahan sakit / meringis. 
Spasme otot sehubungan dengan luka post operasi.
Gangguan rasa nyaman nyeri

2.
22/11 2005
DS  :  Klien mengatakan jika BAK urin yang keluar hanya sedikit.
DO :  Urin yang keluar berjumlah 1000 cc/hari 
Infeksi residual urine
Perubahan eliminasi disuria

3.
22/11 2005
DS  :  Klien mengatakan jika untuk bergerak. 
DO :  Adanya balutan luka insuisi.
          Aktivitas pasien dibantu oleh keluarganya  
Nyeri luka insisi
Mobilisasi fisik.
I



  1. Diagnosa Keperawatan

a.       Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan otot sehubungan dengan luka post operasi ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada saat batuk pada daerah jahitan dengan skala nyeri 5, klien terlihat menahan nyeri dan meringis.
b.       Perubahan eliminasi disuria berhubungan dengan residual urine ditandai dengan klien mengatakan jika BAK urin yang keluar hanya sedikit, urin yang keluar berjumlah 1000 cc / hari.
c.       Imobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri luka insisi ditandai dengan klien mengatakan nyeri jika untuk bergerak, adanya luka insisi, aktifitas pasien di bantu oleh keluarganya.


G.    PERENCANAAN

1.      Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan otot sehubungan dengan luka post operasi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan selaam 1 x 30 menit rasa nyeri berkurang.
Kriteria hasil :
-          Nyeri yang dirasakan pasien berkurang dari skala 5 menjadi 3
-          Pasien mengatakan jika untuk bergerak tidak menimbulkan nyeri
-          Agar pasien tampak rileks, tidur / istirahat dengan tenang.
Intervensi :
-          Kaji skala nyeri, lokasi intensitas (skala 0-10)
-          Pertahankan kateter dari lakukan
-          Bantu penggunaan teknik relaksasi dan pengubahan posisi

2.   Perubahan eliminasi disuria berhubungand enggan infeksi residual urine
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan dapat berkemih dengan normal dan tidak terjadi retensi.


Kriteria hasil :
-          Tidak ada retensi urine
-          Perubahan eliminasi disuria dapat diatasi
Intervensi :
-          Kaji haluaran urine dan karakteristik urine
-          Bantu pasien memilih posisi yang nyaman waktu berkemih
-          Dorong masukan cairan 2,5 – 3 liter sesuai advis dokter dan batasi cairan pada malam hari setelah kateter dilepas
-          Perhatiakn waktu, jumlah aliran kateter dan kesulitan berkemih.

3.   Imobilitas fisik berhubungan dengan nyeri luka insisi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam pasien dapat mobilisasi sesuai toleransi. 
Kriteria hasil :
-          Pasien mengatakan bila beraktifitas sesuai dengan toleransi
-          Aktifitas dapat dilakukan sendiri secara bertahap tanpa bantuan keluarga
Intervensi :
-          Kaji status nyeri saat beraktifitas
-          Motivasi pasien untuk melakukan ubah posisi secara bertahap sesuai kemampuan
-          Memotivasi untuk melaklukan gerakan ringan
-          Berikan gerak latihan aktif / pasif.
Perhatikan waktu, jumlah aliran kateter dan kesulitan berkemih


H.    IMPLEMENTASI

Tgl & Jam
No
Dx
Implementasi
Respon Pasien
TTD
22-11 2005
14.30
1,3
Mengkaji skala nyeri, lokasi intensitas (0-10)
Mengkaji status nyeri saat beraktifitas
DS  : Klien mengatakan nyeri pada bekas jahitan pada saat dibuat batuk, dengan skala nyeri 5
DO : Ada luka insisi dan balutan.


1
Mempertahankan selang kateter dari lakukan.
DS  : -
DO : Aliran urin dapat mengalir dengan lancar

15.00
1
Membantu penggunaan teknik relaksasi pada saat muncul nyeri
DS  : Pasien mengatakan merasa nyaman.
DO : Klien terlihat tenang.


2
Mengkaji keluaran urin dan karakteristik urin
DS  : Klien mengatakan pada saat BAK urin keluar sedikit. 
DO : Urin keluar 1000 cc/hari 

15.30
2
Menganjurkan klien untuk berkemih jika ada dorongan untuk berkemih.
DS  : Klien mau melakukannya.
DO : Klien sedang berkemih.

16.30
3
Memotivasi untuk melakukan ubah posisi secara bertahap sesuai kemampuan.
DS  : Klien mau melakukannya
DO : Klien menggerakkan badan ke kiri dan ke kanan. 


3
Memotivasi untuk melakukan gerakan ringan.
DS  : Klien mau melakukannya 
DO : Klien menggerakkan kaki satu per satu. 

18.00
2
Mendorong masukan cairan 2,5 – 3 liter sesuai advis dokter.
DS  : -
DO : Klien sedang minum air Putih. 

22-Nov 2005
22.00
1,2
Memonitor keadan umum klien.
DS  : -
DO : Keadaan klien baik  

24-Nov
2005
06.00

Mengkaji status nyeri klien dan mengkaji keluaran urin dan karakteristik urin.
DS  : Klien mengatakan nyeri berkurang
DO : - Klien terlihat tenang
         - Urine yang keluar 1500 cc/hr
         - Karakteristik urin jernih  



I.       EVALUASI

Tgl/
Jam
No
Catatan Perkembangan
Ttd
24 Nov
2005
06.00
1
S  :   Klien mengatakan nyeri berkurang, skala nyeri 4
O :   Klien terlihat tenang
A :   Masukan teratasi sebagian
P  :   Lanjutkan intervensi :
-    Kaji status nyeri intensitas, lokasi
-    Monitor keadaan umum klien
-    Anjurkan dengan menggunakan teknik relaksasi saat nyeri timbul.


2
S  :   Klien mengatakan saat BAK sudah agak lancar
O :   Urin yang keluar 1500 cc / hari, urin jernih 
A :   Masalah teratasi sebagian 
P  :   Lanjutkan intervensi :
-    Kaji keluaran urin dan karakteristik
-    Dorong klien untuk berkemih jika ada dorongan untuk berkemih.
-    Motivasi klien untuk masukan cairan 2,5 – 3 liter sesuai advis dokter


3
S  :   -
O :   Klien sedang latihan gerakan ringan. Klien sedang dudik.
A :   Masalah teratasi sebagian 
P  :   Lanjutkan intervensi :
-    Motivasi klien untuk melakukan ubah posisi ke kanan dan ke kriri
-    Motivasi klien untuk gerakan ringan
-    Bantu klien untuk beraktifitas sehari-hari





DAFTAR PUSTAKA


Suddart & Brunner, 2001, Keperawatan Medical Bedah, Edisi 8, Jakarta, EGC.
Kapita Selekta Kedokteran, 2000, Edisi 3, FK UI, Jakarta.
Doenges Marlynn E, 2000, Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Barbara C. Long, 1996, Perawatan Medikal Bedah 3, Alih Bahasa : Yayasan IAPK, Padjajaran Bandung.
Doenges, Marilyn E, 2000, Rencana Asuhan Keperawtan Edisi 3, Alih Bahasa I Made Kariasa, Jakarta : EGC.
Sylvia A. Pricwe, 1996, Loraine M. Wilson. Patofisiologi Konsep Klinis Proses, Edisi 4, Jakarta : EGC.
Carpenito, J.L, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Edisi 2, Jakarta : EGC.

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking